Oleh: Muhammad Syaifudin
Tahapan pemahaman moral antar pribadi menurul Selman (1980), tahapan-tahapan itu merupakan suatu kerangka untuk menafsirkan tahapan-tahapan penalaran moral antar pribadi yang dielaborasi. Perubahan tahapan perkembangan tersebut dalam aspek-aspek persahabatan yaitu :
1.
Perumusan situasi
2. Alas an-alasan yang
diberikan untuk mengambil keputusan
praktis
a. Konsisten dengan kewajiban dalam persahabatan
b. Ketidakkonsitenan dalam kewajiban persahabatan
3. Konsekuensi pelanggaran kewajiban dalam persahabatan
a. Bagi orang lain (pergaulan)
b. bagi si pelaku (perasaan moral)
Berbagai aspek dalam “ pembahasan moral” antara kawan yang diimajinasikan misalnya strategi atau siasat yustifikasi dan restitusi untuk melahirkan maupun rmenghindarkan berbagai konsekuensi pelanggaran kewajiban
Tahapan pertama yang
terjadi adalah tahapan 0, yang disebut tahapan fisikalistis, dimana unsur
utama dari situasi ialah hasrat
dan keinginan si pelaku itu berpusat pada dirinya sendiri (self-centered), yang dikaitkan dengan
pengorbanan yang bersifat hedonistic. Hasrat-hasrat hedonistic sebagi alasan-alasn
pengambil keputusan. Contoh untuk memenuhi ajakan menonton bioskop
demi persahabatan dengan sahabatnya itu. Konsekuensi keputusan pergi menonton
bioskop bagi si pelaku itu sendiri (perspektif diri) lagi-lagi belum dirasakan
sebagai pelanggaran suatu kewajiban. Keputusan untuk pergi menonton bioskop itu
di rasakan si pelaku pada dasarnya baik-baik saja(karena ia bisa pergi menonton
bioskop), ia melihat keputusannya itu atas dasar pragmatis belaka, karena tidak
adanya kesadaran akan terjadinya pelanggaran moral, maka tidak diperlukan
yustifikasi keputusan tersebut dalam arti “menunjukkan alasan yang lbih kuat
dari pada mengatasi kewajiba tersebut”.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan 1, yang disebut tahapan unilateral, perumusan situasinya adalah
hasrat diri dan orang lain yang muncul adanya konflik perhatian antara kedua
belah pihak kawannya, alasan mengambil keputusan untuk mengunjungi sahabtnya
itu tidak lagi semata-mata sebagai alasan hedonistik seperti pada tahapan 0,
melainkan sebagai aspek hubungan persahabatan (menyukai sahabat, menyukai
kebersamaan, , atau persahabatannya itu sendiri). Konsekuensi untuk pergi ke
bioskop sebagai kesadaran terhadap diri
sehubungan dengan pertimbangan ikut atau tetap tinggal dirumah,
menghindari konsekuensi negative untuk dirinya setelah peristiwa itu
berlangsung (tidak akan menceritakan apapun karena sahabatya akan marah), sehingga
perlu adanya yustifikasi sbg penjelasan dan penyembunyian atas tindakannya.
Tahapan selanjutnya
adalah tahapan 2, yaitu kerja sama dalam iklim yang wajar, interaksi yang
berkelanjutan merupakan perumusan situasinya, janji si pelaku arau
harapan-harapan yang lahir dari janji sebagai kesepakatan untuk bertemu
merupakan alasan dan dasar pemikiran untuk mengunjungi sahabatnya itu. Kesdaran
akan kewajiban dan harapan tersebut yang bertalian dengan persahabtan dan
pemberian janji itu menciptakan semacam “dorongan” yang memotivasi untuk
mencari alasan yang membenarkan (meyustifikasi) pelanggaran kewajiban tersebut.
Konsekuensi bagi sahabatnya itu adalah pengkhianatan yang menyebabkan
sahabatnya merasa tersinggung, kecewa dan merasa ditinggalkan. Konsekuensi keputusan
bagi si pelaku adalah perasaan moral antar pribadi (merasa tidak enak setelah
mengkhianati). Untuk menyeimbangkan kembali persahabatan itu maka harus ada
pemahaman kembali yang lebih psikologis.
Tahapan yang berikutnya adalah
tahapan ke-3, yaitu persahabatan yang akrab, hubungan ini adalah sebagai system
harapan bersama yang menyagkup perjanjian, pemberian perlindungan, keprcayaan
dan perlindungan thd kebutuhan dan perasaan sahabatnya yang lebih mendalam dari
tahapan 2. Pengambilan keputusan apabila sahabatnya itu ingin bicara dengan si
pelaku di tafsirkan bahwa ia mempunyai keperluan. Hal ini mjd alasan yang
berboboy “moral” yang mengacu pada harapan-harapanpersahabatan dan janji. Alsan
yang melandasi adalah agr tidak menjadi pengkhianat atau pengingkar janji.
Konsekuensi diri adalah menadari kesalahan dan adanya rasa malu. Untuk
meneimbangkan hubungan persahabatan ini adalah dengan Menghayati perlunya
membicrakan tentang pengambilan keputusan, tentang yustifikasi keputusan
melalui penalaran, atau tentang meyakinkan kembali solidaritas dalam komunikasi.
Tahapan terakhir adalah tahapan 4,
yaitu melebihi dari persahabatan yang akrab, akan tetapi blum didapatkan data
yang cukup untuk meyustifikasi secara memadai dalam memberikan deskripsi
mengenai tahapan 4 tersebut. Tampaknya hanya pada tahapan ini, segala kepdulian
ditimbang-timbang secara sistematis berdasarkan prioritasnya. ( sekiranya
sahabt itu benar-benar memerlukan si pelaku, maka ia harus pergi
mengunjunginya, akan tetapi sekiranya situasi tidak segawat itu, maka si
sahabat itu harus menerima bahwa si pelaku akan mengunjunginya pada kesempatan
lain. Keabsahan (legitimasi) kebutuhan sahabatnya dibandingkan dengan
kebutuhannya sendiri dan dirumuskan sebagai hak seseorang atas dasar hubungan
persahabatan, serta kewajiban seseorang yang melebihi persahabatan yang akrab.
Sahabat itu dipandang sebagai memiliki kewajiban moral untuk memperhatika pula
situasi orang lain. Untuk menyeimbangkan keadaan ini maka diperlukan suatu
asumsi untuk saling memahami tentang
tuntutan dan kewajiban masing-masing yang memungkinkan diadakannya
perundingan yang dilangsungkansecara “rasional”.
Keterangan
:
Yustifikasi : peradilan keputusan yang membenarkan
Elaborasi : penggarapan secara tekun dan cermat
Pragmatis : bersifat praktis dan dan berguna bagi umum
Hedonistik : pandangan yang menganggap kesenangan dan
kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup
Unilateral : secara 1 pihak, dipengaruhi 1 golongan saja
Psikologis : bersifat kejiwaan
Solidaritas : sifat satu rasa (senasib
dan sepenanggungan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar