Total Tayangan Halaman

Artikel

Pemuda Harus Baper, Mager, dan Gabut !

Oleh: Muhammad Syaifudin, S. Pd., Gr


Surabaya. Salah satu cagar budaya yang menjadi tempat favorit bagi masyarakat Surabaya untuk pusat kegiatan adalah Balai Pemuda. Apalagi saat malam tanggal 15 (bulan jawa) tiba, halaman Balai Pemuda dipadati oleh orang-orang. Disini selalu ada kegiatan rutin yang menarik banyak orang khususnya pemuda-pemudi yang tinggal dan berdomisili di Surabaya. Yes, acara ini namanya Bang Bang Wetan (BBW). Acara ini merupakan pengajian atau forum terbukayang rutin dilaksanakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng bersama team. Bahkan forum BBW dihadiri oleh jamaah dari kabupaten lain seperti Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto dan beberapa daerah kabupaten lainnyadi Jawa Timur. Dan biasanya dari luar Jawa Timur juga ada yang menghadiri acara tersebut. Tidak hanya pemuda-pemudi, tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak sangat antusias diajak orang tuanya untuk ngaji bareng, mendengar sharing, bahkan diskusi bareng. Bahkan tidak sebatas pada yang beragama islam saja, melainkan semua pemeluk agama apapun boleh hadir, bahkan penganut atheispun dipersilahkan, karena forum ini adalah forum Maiyah, forum kebersamaan bagi semua makhluk Allah (www.caknun.com).

Kegiatan BBW biasanya rutin dilaksanakan setiap tanggal 15 (bulan jawa). Jika sudah berada ditengah-tengah forum ini (Maiyah), bisa dipastikan jamaah merasakan baper, mager, dan gabut.Iya. 3 kata itu sering digunakan oleh anak dan remaja bahkan orang dewasa dalam kegiatan sehari-hari, terutama dunia maya (sosial media). Baper diartikan sebagai akronim dari bawa perasaan, yaitu menanggapi sikap atau perkataan lawan bicara dengan perasaan. Sedangkan mager adalah akronim dari males gerak yang berarti menolak ajakan orang lain atau seseorang sudah nyaman dengan aktivitas yang sudah dilakukan. Berbeda dengan baper dan mager, gabut tidak memiliki akronim meskipun ada yang mengartikan “gaji buta”. Namun gabut dalam hal ini adalah perasaanyang sedang tidak ingin melakukan aktivitas apapun.

Pertanyaan selanjutnya apa hubungannya pemuda baper, mager dan gabut pada acara BBW?

Pertama, adanya perasaan nyaman untuk tetap aktif mendengar dan lebih-lebih berpartisipasi untuk diskusi dan tanya jawab pada acara tersebut. Banyaknya jamaah yang hadir di forum Maiyah ini juga menjadi salah satu alasan mager untuk tetap di lokasi forum.Jika forum biasa pada umumnya yang ingin cepat-cepat meninggalkan acara saat dirasa acara tidak seru dan bermanfaat lagi, namun berbeda dengan BBW. BBW tidak hanya sekedar siraman rohani saja, BBW juga menyajikan sajian musik melalui alat musik tradisional dan modern yang dikemas dengan baik sehingga memunculkan suara musik yang khas dari Kiai Kanjeng sebagai team dalam bermain musik. Sehingga tidak ada satu celahpun acara yang garing bagi jamaah Maiyah yang benar-benar menikmatinya. Apalagi ditambah diskusi juga selalu memberikan penalaran kepada jamaah sebagai bekal untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Tidak hanya itu loh, forum maiyah ini juga seakan menyulap para jamaah untuk gabut (tidak ingin ngapa-ngapain), yang semula resah menjadi tenang, yang punya masalah seakan hilang. Bahkan yang paling penting adalah ilmu yang didapatkan tidak hanya ilmu agama saja, namun banyak ilmu seperti; ilmu pengetahuan, kesenian, kebudayaan, dan ilmu kehidupan.Sehingga jamaah ingin berlama-lama untuk berdiam diri di forum untuk sharing bahkan saling diskusi mengenai segala bentuk macam permasalahan kehidupan. Permasalahan yang dibahas tidak hanya sekedar ilmu teori semata tetapi lebih ke penerapan dalam kehidupan nyata. Jadi inilah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi jamaah Maiyah untuk tetap gabut selain dengan BBW.

Tidak berhenti sampai disitu saja, jamaah forum Maiyah ini pasti akan (baper) bawa perasaan. Buktinya setiap pernyataan (narasumber) terutama Cak Nun, lagu yang dinyanyikan dan musik yang didendangkan oleh Kiai Kanjeng begitu menyentuh hati. Oleh karena itu forum ini sangat cocok bagi siapapun, pas bagi semua kalangan, tidak hanya kalangan menengah ke bawah, bahkan banyak dari kalangan menengah keatas yang hadir dan menikmati acara.Bagi siapa saja yang ikut di dalam acara ini pasti merasakan ketenangan hati atau baper. hal ini didasari penulis sebagai jamaah yg sering mengikuti acara BBW.

Tonggak utama bukan sekedar pengajian, berbagi ilmu, pameran, atau bahkan pertunjukkan musik yang disajikan. Namun diakhir acara selesai selalu menyanyikan lagu “Indonesia Raya” secara bersama-sama yang dipimpin langsung oleh Cak Nun. Semua jamaah terasa terhipnotis untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk cinta tanah air, memancing sikap nasionalisme jamaah untuk selalu bangga terhadap bangsa dan negara Indonesia, meningkatkan sikap patriotisme dalam mengisi kemerdekaan sebagai bentuk jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan yang lebih penting dari forum ini tidak memandang suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) dalam bentuk apapun. Hal ini juga sebagai cerminan semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika. (Surabaya, Oktober 2018)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Materi Tambahan PPKN Kelas 7 BAB 6

    Oleh: Muhammad Syaifudin Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dirancang berbasis aktivitas terkait dengan sejumlah tema...